Selasa, 18 Oktober 2016

Dia Bukan Hujan

Saat tetesan nikmatMu membasahiku, aku tengah melintas bersamanya. Melewati senja yang istimewa ini, melewati hitungan waktu yang terus berganti. Hari ini mendungmu kian mendongakkan raut lelah, menandakan masih banyak air yang mengenang bersamanya sedang mengankasa bebas di atas sana.

Aku suka hujan dan mungkin tidak baginya, meskipun dia menyukai aku. Itu adalah hal yang cukup. Dia adalah dia, aku menyukainya meski dia bukan hujan

Selasa, 04 Oktober 2016

Dia dan Hujan (Sambungan)

                Tak menghiraukan itu, aku terus memacu kecepatan kendaraanku berharap mampu menembus hujan yang menjadi-jadi dengan guyupan sang bayu meraja lela. Ternyata diapun semakin lemah dan terasa rangkulan eratnya mulai longgar serta suaranya semakin menggigil di telingaku. 

                “aaabang,,,,huh,huh,huh!”

                Aku tak perlu lagi penjelasan apa-apa, sudah pasti Tika merasakan kedinginan yang begitu menusuknya. Akhirnya sepeda motorku berhenti, kami berteduh di depan sebuah ruko. Banyak para pengendara yang juga berteduh, hanya saja mereka menyoroti kami dengan pandangan yang tak biasa, mungkin karena mereka tidak basah di guyur hujan atau mungkin mereka aneh melihat penampilan kami yang basah-basahan dengan seragam hitam putih yang di balut jas almamater.

                Tika semakin menggigil tanda kedinginan, tanpa basa-basi aku memeluknya berniat mengurangi rasa dingin yang menyiksanya tapi seketika sang bayu kembali berhembus dan kali ini ia berhasil menarik paksa seng lepas dari atap rumah yang tak jauh dari tempat kami berteduh. Sontak semua orang terkejut luar biasa, Tika yang juga terkejut memeluk erat tubuhku mengisyaratkan hal itu membuatnya takut.

                Aku mencoba melerai semua rasa takut yang tengah bersemayam bersamanya dan mencoba menghilakan gigilan yang membuatnya gontai. Saat itu ia masih memelukku dengan erat, aku mengusap kepalanya dan tampaknya hal itu berhasil membuatnya nyaman. Kamipun perlahan melepaskan pelukan mengingat rasa canggung pada orang-orang yang ada di tengah kami.

                Hujan berangsur reda, keberanian untuk berkendarapun muncul kembali pada diriku meski hal yang sama tidak terjadi pada dia. Orang-orang yang berteduh bersama kamipun satu-satu pergi dan tak jarang diantara mereka berpamitan kedapa kami, menandakan cuaca tengah bersahabat. 

                Sayang sekali meski banyak diatara pengendara yang melintas tak satupun dari mereka bisa kembali dengan tenang, mereka harus dihadapkan dengan jalananbajir yang ketingiannya mencapai betis orang dewasa. Banyak diatara mereka yang kendaraannya mogok, hal ini membuatku ciut kembali. Aku hanya berdiri tersenyum memandangi Tika yang tengah menggeram ke arahku, pasalnya tadi aku ngotot mengajaknya kembali berkendara. 

                Rintik hujan kembali menetes, tampaknya rintik hujan kali ini mengejekku akan sikap ngototku yang ternyata salah. Untungnya Tika masih menahanku dan kamipun tidak lagi harus diguyur hujan. Adakalanya aku tertawa sendiri melihat tingkahku sedari tadi yang berleha-leha tak meghiraukan mendung, aku beranggapan sepele pada hujan dan menerobosnya, setelah itu tak lama berteduh aku coba kembali berkendara dan memaksa Tika untuk ikut namun ternyata keputusanku salah. Ternyata Tika yang sedari tadi mengikuti apa yang aku lakukan harus menanggung akibat yang sama, basah-basahan dengan hujan. 

                Hari ini hari dimana hubungan kami genap lima bulan, ternyata di balik hujan yang lebat ini sekali lagi memperlihatkan bahwa Tika terus sabar akan tingkahku, sangat di sayangkan aku tak banyak berubah. Masih saja seperti dulu, ceroboh, sepele serta merasa kalau aku mampu menghadipi segalanya.

Makasi, udah mau sabar selama lima bulan ini.
Oe Tea Mo.

Selamat Hari Jadi yang ke-5 Bulan.
Jangan Lupa Untuk  Menyelesaikan Teka-tekinya, Yah Hadiah Akhir dari Teka-tekinya Adalah Sebuah Kata-kata...

:)

Minggu, 02 Oktober 2016

Teka teki

Par 1.
 Terdengar angin berhembus sebagai tanda sang bajak laut tengah berlabuh. Dalam perjalanannya ia telah banyak menaklukkan badai dan monster laut dengan begitu ganasnya.

Namun di hari ke tujuh ia berlabuh, ia melukis wajahnya yang sangar dengan berhiaskan senyuman dan lengkap dengan seorang putri di sampingnya yang juga ikut tersenyum. Di balik senyumnya yang penus misteri, ternyata menyimpan makna untuk sang putri..