Tak
menghiraukan itu, aku terus memacu kecepatan kendaraanku berharap mampu
menembus hujan yang menjadi-jadi dengan guyupan sang bayu meraja lela. Ternyata
diapun semakin lemah dan terasa rangkulan eratnya mulai longgar serta suaranya
semakin menggigil di telingaku.
“aaabang,,,,huh,huh,huh!”
Aku tak
perlu lagi penjelasan apa-apa, sudah pasti Tika merasakan kedinginan yang
begitu menusuknya. Akhirnya sepeda motorku berhenti, kami berteduh di depan
sebuah ruko. Banyak para pengendara yang juga berteduh, hanya saja mereka
menyoroti kami dengan pandangan yang tak biasa, mungkin karena mereka tidak
basah di guyur hujan atau mungkin mereka aneh melihat penampilan kami yang
basah-basahan dengan seragam hitam putih yang di balut jas almamater.
Tika
semakin menggigil tanda kedinginan, tanpa basa-basi aku memeluknya berniat
mengurangi rasa dingin yang menyiksanya tapi seketika sang bayu kembali
berhembus dan kali ini ia berhasil menarik paksa seng lepas dari atap rumah
yang tak jauh dari tempat kami berteduh. Sontak semua orang terkejut luar
biasa, Tika yang juga terkejut memeluk erat tubuhku mengisyaratkan hal itu
membuatnya takut.
Aku
mencoba melerai semua rasa takut yang tengah bersemayam bersamanya dan mencoba
menghilakan gigilan yang membuatnya gontai. Saat itu ia masih memelukku dengan
erat, aku mengusap kepalanya dan tampaknya hal itu berhasil membuatnya nyaman.
Kamipun perlahan melepaskan pelukan mengingat rasa canggung pada orang-orang
yang ada di tengah kami.
Hujan
berangsur reda, keberanian untuk berkendarapun muncul kembali pada diriku meski
hal yang sama tidak terjadi pada dia. Orang-orang yang berteduh bersama kamipun
satu-satu pergi dan tak jarang diantara mereka berpamitan kedapa kami,
menandakan cuaca tengah bersahabat.
Sayang
sekali meski banyak diatara pengendara yang melintas tak satupun dari mereka
bisa kembali dengan tenang, mereka harus dihadapkan dengan jalananbajir yang
ketingiannya mencapai betis orang dewasa. Banyak diatara mereka yang
kendaraannya mogok, hal ini membuatku ciut kembali. Aku hanya berdiri tersenyum
memandangi Tika yang tengah menggeram ke arahku, pasalnya tadi aku ngotot
mengajaknya kembali berkendara.
Rintik
hujan kembali menetes, tampaknya rintik hujan kali ini mengejekku akan sikap
ngototku yang ternyata salah. Untungnya Tika masih menahanku dan kamipun tidak
lagi harus diguyur hujan. Adakalanya aku tertawa sendiri melihat tingkahku
sedari tadi yang berleha-leha tak meghiraukan mendung, aku beranggapan sepele
pada hujan dan menerobosnya, setelah itu tak lama berteduh aku coba kembali
berkendara dan memaksa Tika untuk ikut namun ternyata keputusanku salah. Ternyata
Tika yang sedari tadi mengikuti apa yang aku lakukan harus menanggung akibat
yang sama, basah-basahan dengan hujan.
Hari
ini hari dimana hubungan kami genap lima bulan, ternyata di balik hujan yang
lebat ini sekali lagi memperlihatkan bahwa Tika terus sabar akan tingkahku,
sangat di sayangkan aku tak banyak berubah. Masih saja seperti dulu, ceroboh,
sepele serta merasa kalau aku mampu menghadipi segalanya.
Makasi, udah mau
sabar selama lima bulan ini.
Oe Tea
Mo.Selamat Hari Jadi yang ke-5 Bulan.
Jangan Lupa Untuk Menyelesaikan Teka-tekinya, Yah Hadiah Akhir dari Teka-tekinya Adalah Sebuah Kata-kata...
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar