Senin, 30 Januari 2017

Awalnya hanya sebuah candaan biasa antar sesama kawan. Hingga akhirnya candaan itu menjadi sebuah ketertarikan yang amat sangat terhadap dirinya. Yang dulu aku fikir sosok pria yang misterius.
Laki-laki itu terus saja berbicara dengan nada yang aku pikir itu tinggi dan aku sering mengatakan bahwa itu adalh sikap yg kasar.
Tapi semuanya berubah semenjak aku mengenalya semenjak aku dekat dengan nya.
Entah aku yang baru tau atau memang dia merubah sikapnya sekarang. Dia jadi orang yang tiba2 saja perhatian,bahkan melakukan hal2 yang konyol yang aku pikir dia tak mungkin melakukakannya. Aku mendapatkan itu disaat aku sakit,sakit itu berubah menjadi tawa karenanya,karena sikap konyolnya itu.

     Seiring berjalannya waktu banyak yg dilalui.Hanya saja terkadang mugkin aku terlalu mendominasi kehidupannya.Tak membiarkannya melakukan apa yg dia inginkan.Aku hanya ingin dia menjadi yg terbaik tapi mungkin caraku salah Aku akan berubah menjadi seseorang yg tak lg menuntut banyak,tak lg meminta banyak,takkan mengomel banyak seperti dulu.
Karena sekarang aku sadar,entah itu benar atau tidak tapi rasanya sekarang caraku menunjukkan rasa sayang,cinta dan peduliku dengan cara diam membiarkannya melakkukan semua yang diinginkannya tanpa meminta sesuatu yg tidak disukainya.
Kalau bahkan dengan cara itu dia menganggapku tak mencintainya.itu salah
Aku masih dan akan selalu mencintai laki laki itu.Laki laki misteriusku
Satu hal lagi mungkin ada seribu alasan untuk meninggalkanmu tapi aku memilih satu alasan untuk tetap bersamamu dan alasan itu adalah kamu.

Belum Ada Judul

Mungkin bukan Iwan Fals saja yang memberikan nama karyanya seperti kata yang terpetik di atas. Ini adalah judul dimana semua tentang kemulut bermula, sehingga pada akhirnya tak ada kata yang cukup padu mewakili semua kejadian ini. Sayangnya ini harus di tuangkan, kedalam catatan ini.
*****

       Waktu akan mungkin dengan mudah berlalu, meninggalkan apa yang tak seharusnya yang ia tunggu dan tak pernah kembali berdiam diri sembari angan akan meraihnya kembali sehingga itu semua menjadi nyata. Yah, Inilah pahitnya!, sebuah kenyataan akan terasa sangat pahit bagi seorang pemimpi yang telah terbangun dari tidurnya tan harus berasni mewujudkannya, menyatakannya bahkan ia takkan berani untuk mengingat mimpi itu kembali. 

        Saat kobaran obor semangat akan kian memudar, saat itu pulalah malam benar-benar terasa buta dan angin sungguh-sungguh merasa dingin. Maka seseorang mengetahui arti dari sebuah kebenaran akan sebuah kematian.

        Tapi aku tak mau mati dan tak takut mati untuk sekarang ini, masih banyak alasan yang memaksaku harus tetap kokh berdiri menantang ajal yang tiap saat mengintai. Inilah kenyataannya dimana aku akan berusaha melawan kerasnya hinaa, hujatan dan makian. Demi mereka, demi dia dan demi semua mimpi-mimpi itu serta demi janji itu. Aku mencintai hidupku, duniaku, mereka dan dia. 

        Kini saat ajal datang menggodaku dan mengajakku untuk pergi, aku takkan menoleh sedikitpun padanya melaikan aku akan medah tangan pada Yang Satu, meminta perlindungannya dan pertolongannya. 

"Ya Allah Ampunilah dosa ku dan dosa kedua orang tuaku dan dosa hamba-hambaMu, lindungi kami dan permudah urusan kami".

dan keajaibanpun terjadi, semangat baru hadir dalam diriku. 

Sabtu, 28 Januari 2017

Apakah ini..



            Kesekian harinya di tahun yang baru ini, tampaknya pertanggalan kian hari kian tak terasa. Begitu dengannya, semakin tampak dewasa dan menawan. Oh, akankah ini hari-hari indah itu. Diaman hanya ada matamu yang menatap tajam mataku dan kita saling terpukau antara satu dan lainnya.
            “L, henhh”
            “loh, kok diam aja?”
            “jadi, adek harus teriak-teriak”, balasnya dengan raut wajah yang kusut.
            Biasanya rambut itu terikat rapi dan tertata rapi. Mungkin karena ini bukan malam biasa, dimana rambut indah itu terbuka dan menjuntai bagaikan padi yang ranuh terhembus bayu.
            “huuhhhhh”, sedikit ku hela nafas”jangan gitu,ah. Jelek tahu!”
            “biarinlah”, dia tampak semakin ketus.
            Aku terdiam sejenak melihat perawakan yang ia tunjukkan malam ini, walau tampak menyimpan kemarahan tapi tak begitu jelas karena ke molekannya. Setidaknya ada pergejolakan dari balik rambut yang terurai itu.   
            “hemnhh”keadaanpun kian hening.
            Mungkin inilah titik dimana kemarahannya sulit untuk di utarakan, tatapannya kian membuatku engan berbicang, sikapnya yang dingin ikut membuatku merasakan kekesalan yang kian ia tahan.
****
            Seperti menulis, kian hari kemampuanku kian tumpul. Namun kesulitan dalam menghadpi hari-hari yang sepenuhnya kulewati dengan kesibukanku sendiri ikut memancing ketumpulan rasa perhatianku terhadapnya.
Inilah masa-masa sulit dimana harus ada emosi yang tak terpenuhi dan adakalanya setiap detik tak ada lagi tawa bersama.
Aku menyadari kekuranganku sebagai manusia yang lemah, namun aku juga sering untuk merik kembali kesalaha-kesalahan yang telah aku perbuat untuknya.  Jemariku semakin kaku untuk menuliskan kembali kata-kata indah padanya, begitu juga dengan hari-hariku yang semakin sempit untuknya.
Mungkin aku bisa menjadi orang yang asing dalam hidupnya namun dia tetap menanti kedatangan aku yang dulu, tanganna selalu terbuka menunggu genggaman yang kini kian jarang bersentuhan, masih seperti dulu.
Aku selalu mengajar ambisiku yang tengah melambai jauh di depan, namun sebaliknya aku menjauhkan diriku dari dia yang tetatp setia padaku.
Maafkan aku, tampaknya semuanya hampir pudar. Kemampuan menulisku dan semua inspirasi yang dulu pernah ada untuk membuatmu tertawa, bingung dan bahkan bangga akan diriku. .  .