Kesekian
harinya di tahun yang baru ini, tampaknya pertanggalan kian hari kian tak
terasa. Begitu dengannya, semakin tampak dewasa dan menawan. Oh, akankah ini
hari-hari indah itu. Diaman hanya ada matamu yang menatap tajam mataku dan kita
saling terpukau antara satu dan lainnya.
“L, henhh”
“loh,
kok diam aja?”
“jadi,
adek harus teriak-teriak”, balasnya dengan raut wajah yang kusut.
Biasanya
rambut itu terikat rapi dan tertata rapi. Mungkin karena ini bukan malam biasa,
dimana rambut indah itu terbuka dan menjuntai bagaikan padi yang ranuh
terhembus bayu.
“huuhhhhh”,
sedikit ku hela nafas”jangan gitu,ah. Jelek tahu!”
“biarinlah”,
dia tampak semakin ketus.
Aku
terdiam sejenak melihat perawakan yang ia tunjukkan malam ini, walau tampak
menyimpan kemarahan tapi tak begitu jelas karena ke molekannya. Setidaknya ada
pergejolakan dari balik rambut yang terurai itu.
“hemnhh”keadaanpun
kian hening.
Mungkin
inilah titik dimana kemarahannya sulit untuk di utarakan, tatapannya kian
membuatku engan berbicang, sikapnya yang dingin ikut membuatku merasakan
kekesalan yang kian ia tahan.
****
Seperti
menulis, kian hari kemampuanku kian tumpul. Namun kesulitan dalam menghadpi
hari-hari yang sepenuhnya kulewati dengan kesibukanku sendiri ikut memancing
ketumpulan rasa perhatianku terhadapnya.
Inilah
masa-masa sulit dimana harus ada emosi yang tak terpenuhi dan adakalanya setiap
detik tak ada lagi tawa bersama.
Aku
menyadari kekuranganku sebagai manusia yang lemah, namun aku juga sering untuk
merik kembali kesalaha-kesalahan yang telah aku perbuat untuknya. Jemariku semakin kaku untuk menuliskan
kembali kata-kata indah padanya, begitu juga dengan hari-hariku yang semakin
sempit untuknya.
Mungkin aku
bisa menjadi orang yang asing dalam hidupnya namun dia tetap menanti kedatangan
aku yang dulu, tanganna selalu terbuka menunggu genggaman yang kini kian jarang
bersentuhan, masih seperti dulu.
Aku selalu
mengajar ambisiku yang tengah melambai jauh di depan, namun sebaliknya aku
menjauhkan diriku dari dia yang tetatp setia padaku.
Maafkan aku, tampaknya semuanya hampir pudar.
Kemampuan menulisku dan semua inspirasi yang dulu pernah ada untuk membuatmu
tertawa, bingung dan bahkan bangga akan diriku. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar