Sabtu, 28 Januari 2017

Apakah ini..



            Kesekian harinya di tahun yang baru ini, tampaknya pertanggalan kian hari kian tak terasa. Begitu dengannya, semakin tampak dewasa dan menawan. Oh, akankah ini hari-hari indah itu. Diaman hanya ada matamu yang menatap tajam mataku dan kita saling terpukau antara satu dan lainnya.
            “L, henhh”
            “loh, kok diam aja?”
            “jadi, adek harus teriak-teriak”, balasnya dengan raut wajah yang kusut.
            Biasanya rambut itu terikat rapi dan tertata rapi. Mungkin karena ini bukan malam biasa, dimana rambut indah itu terbuka dan menjuntai bagaikan padi yang ranuh terhembus bayu.
            “huuhhhhh”, sedikit ku hela nafas”jangan gitu,ah. Jelek tahu!”
            “biarinlah”, dia tampak semakin ketus.
            Aku terdiam sejenak melihat perawakan yang ia tunjukkan malam ini, walau tampak menyimpan kemarahan tapi tak begitu jelas karena ke molekannya. Setidaknya ada pergejolakan dari balik rambut yang terurai itu.   
            “hemnhh”keadaanpun kian hening.
            Mungkin inilah titik dimana kemarahannya sulit untuk di utarakan, tatapannya kian membuatku engan berbicang, sikapnya yang dingin ikut membuatku merasakan kekesalan yang kian ia tahan.
****
            Seperti menulis, kian hari kemampuanku kian tumpul. Namun kesulitan dalam menghadpi hari-hari yang sepenuhnya kulewati dengan kesibukanku sendiri ikut memancing ketumpulan rasa perhatianku terhadapnya.
Inilah masa-masa sulit dimana harus ada emosi yang tak terpenuhi dan adakalanya setiap detik tak ada lagi tawa bersama.
Aku menyadari kekuranganku sebagai manusia yang lemah, namun aku juga sering untuk merik kembali kesalaha-kesalahan yang telah aku perbuat untuknya.  Jemariku semakin kaku untuk menuliskan kembali kata-kata indah padanya, begitu juga dengan hari-hariku yang semakin sempit untuknya.
Mungkin aku bisa menjadi orang yang asing dalam hidupnya namun dia tetap menanti kedatangan aku yang dulu, tanganna selalu terbuka menunggu genggaman yang kini kian jarang bersentuhan, masih seperti dulu.
Aku selalu mengajar ambisiku yang tengah melambai jauh di depan, namun sebaliknya aku menjauhkan diriku dari dia yang tetatp setia padaku.
Maafkan aku, tampaknya semuanya hampir pudar. Kemampuan menulisku dan semua inspirasi yang dulu pernah ada untuk membuatmu tertawa, bingung dan bahkan bangga akan diriku. .  .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar