Hujan, adakah aku
memintamu untuk kembali mengguyurku dengan sangat deras. Yah, aku pernah
berkata kalau aku menyukaimu hujan, menyukai saat kau mengguyurku yang tegah
berboncengan mesra dengannya. Tapi hujan, kenapa sangat dahsyat engkau
mengguyurku dengan angin yang menyamarkan pandanganku. Saat itu ia menrintih,
ia menggil menandakan ketidak sanggupannya menerima guyuran darimu yang cukup
menyiksa dirinya.
Adakalanya saat kami
berteduh berdua, kami tengah kuyup dengan guyuran air. Aku sangat gelisah dengan
keadaan ini mengkhawatirkan dia, melihat dia tengah mengerutkan dahi akan tanda
tanya kapan guyuranmu akan berhenti hujan. Sejenak kami terdiam dan saling
memenadang ketakutan. Aku takut akan terlambat mengantarkannya pulang sementara
dia takut aku akan sakit akibat basah-basahan.
****
Saat
itu sore tengah mendung, tampak sebentar lagi awan akan menumpahkan air sebagai
tanda rahmat dariNya. Aku berboncengan mesra bersamanya melintasi jalan-jalan
yang biasa kami lewati saat sepulang dari kampus. Tak menghiraukan isyrat
mendung dan sedikitpun tak ambil peduli pada senja, kami berbincang mesra dan
tertawa seperti biasanya.
Petirpun
menggema menyala-nyala menyadarkan bahwa kami telah lupa sebentarlagi hujan
akan menetes bahkan merajam dengan sangat derasnya. Akupun yang tersadar dan
menghentikan seda motorku sembari menyuruh Tika menggambil pelapis tas untuk
dibalutkan pada tas agar tas beserta isinya aman dari hujan.
Akhirnya
hujanpun turun, kami melanjudkan perjalannan dengan hujan yang terus membasahi.
Awalnya tetesannya seperti taburan bunga yang sengaja di tumpahkan pada kami,
sepasan kekasih yang sedang bermesraan. Tak lam semuanya berbah menjadi lebih
kejam, pandangaku seketika samar karena angin yang kian menghembus hujan
sehingga tampak bagai kabut.
Bersambung . . . . . .