Kamis, 29 September 2016

Dia dan Hujan



Hujan, adakah aku memintamu untuk kembali mengguyurku dengan sangat deras. Yah, aku pernah berkata kalau aku menyukaimu hujan, menyukai saat kau mengguyurku yang tegah berboncengan mesra dengannya. Tapi hujan, kenapa sangat dahsyat engkau mengguyurku dengan angin yang menyamarkan pandanganku. Saat itu ia menrintih, ia menggil menandakan ketidak sanggupannya menerima guyuran darimu yang cukup menyiksa dirinya.
Adakalanya saat kami berteduh berdua, kami tengah kuyup dengan guyuran air. Aku sangat gelisah dengan keadaan ini mengkhawatirkan dia, melihat dia tengah mengerutkan dahi akan tanda tanya kapan guyuranmu akan berhenti hujan. Sejenak kami terdiam dan saling memenadang ketakutan. Aku takut akan terlambat mengantarkannya pulang sementara dia takut aku akan sakit akibat basah-basahan.
****
                Saat itu sore tengah mendung, tampak sebentar lagi awan akan menumpahkan air sebagai tanda rahmat dariNya. Aku berboncengan mesra bersamanya melintasi jalan-jalan yang biasa kami lewati saat sepulang dari kampus. Tak menghiraukan isyrat mendung dan sedikitpun tak ambil peduli pada senja, kami berbincang mesra dan tertawa seperti biasanya.
                Petirpun menggema menyala-nyala menyadarkan bahwa kami telah lupa sebentarlagi hujan akan menetes bahkan merajam dengan sangat derasnya. Akupun yang tersadar dan menghentikan seda motorku sembari menyuruh Tika menggambil pelapis tas untuk dibalutkan pada tas agar tas beserta isinya aman dari hujan.
                Akhirnya hujanpun turun, kami melanjudkan perjalannan dengan hujan yang terus membasahi. Awalnya tetesannya seperti taburan bunga yang sengaja di tumpahkan pada kami, sepasan kekasih yang sedang bermesraan. Tak lam semuanya berbah menjadi lebih kejam, pandangaku seketika samar karena angin yang kian menghembus hujan sehingga tampak bagai kabut.

Bersambung . . . . . .  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar