Selasa, 18 Oktober 2016

Dia Bukan Hujan

Saat tetesan nikmatMu membasahiku, aku tengah melintas bersamanya. Melewati senja yang istimewa ini, melewati hitungan waktu yang terus berganti. Hari ini mendungmu kian mendongakkan raut lelah, menandakan masih banyak air yang mengenang bersamanya sedang mengankasa bebas di atas sana.

Aku suka hujan dan mungkin tidak baginya, meskipun dia menyukai aku. Itu adalah hal yang cukup. Dia adalah dia, aku menyukainya meski dia bukan hujan

Selasa, 04 Oktober 2016

Dia dan Hujan (Sambungan)

                Tak menghiraukan itu, aku terus memacu kecepatan kendaraanku berharap mampu menembus hujan yang menjadi-jadi dengan guyupan sang bayu meraja lela. Ternyata diapun semakin lemah dan terasa rangkulan eratnya mulai longgar serta suaranya semakin menggigil di telingaku. 

                “aaabang,,,,huh,huh,huh!”

                Aku tak perlu lagi penjelasan apa-apa, sudah pasti Tika merasakan kedinginan yang begitu menusuknya. Akhirnya sepeda motorku berhenti, kami berteduh di depan sebuah ruko. Banyak para pengendara yang juga berteduh, hanya saja mereka menyoroti kami dengan pandangan yang tak biasa, mungkin karena mereka tidak basah di guyur hujan atau mungkin mereka aneh melihat penampilan kami yang basah-basahan dengan seragam hitam putih yang di balut jas almamater.

                Tika semakin menggigil tanda kedinginan, tanpa basa-basi aku memeluknya berniat mengurangi rasa dingin yang menyiksanya tapi seketika sang bayu kembali berhembus dan kali ini ia berhasil menarik paksa seng lepas dari atap rumah yang tak jauh dari tempat kami berteduh. Sontak semua orang terkejut luar biasa, Tika yang juga terkejut memeluk erat tubuhku mengisyaratkan hal itu membuatnya takut.

                Aku mencoba melerai semua rasa takut yang tengah bersemayam bersamanya dan mencoba menghilakan gigilan yang membuatnya gontai. Saat itu ia masih memelukku dengan erat, aku mengusap kepalanya dan tampaknya hal itu berhasil membuatnya nyaman. Kamipun perlahan melepaskan pelukan mengingat rasa canggung pada orang-orang yang ada di tengah kami.

                Hujan berangsur reda, keberanian untuk berkendarapun muncul kembali pada diriku meski hal yang sama tidak terjadi pada dia. Orang-orang yang berteduh bersama kamipun satu-satu pergi dan tak jarang diantara mereka berpamitan kedapa kami, menandakan cuaca tengah bersahabat. 

                Sayang sekali meski banyak diatara pengendara yang melintas tak satupun dari mereka bisa kembali dengan tenang, mereka harus dihadapkan dengan jalananbajir yang ketingiannya mencapai betis orang dewasa. Banyak diatara mereka yang kendaraannya mogok, hal ini membuatku ciut kembali. Aku hanya berdiri tersenyum memandangi Tika yang tengah menggeram ke arahku, pasalnya tadi aku ngotot mengajaknya kembali berkendara. 

                Rintik hujan kembali menetes, tampaknya rintik hujan kali ini mengejekku akan sikap ngototku yang ternyata salah. Untungnya Tika masih menahanku dan kamipun tidak lagi harus diguyur hujan. Adakalanya aku tertawa sendiri melihat tingkahku sedari tadi yang berleha-leha tak meghiraukan mendung, aku beranggapan sepele pada hujan dan menerobosnya, setelah itu tak lama berteduh aku coba kembali berkendara dan memaksa Tika untuk ikut namun ternyata keputusanku salah. Ternyata Tika yang sedari tadi mengikuti apa yang aku lakukan harus menanggung akibat yang sama, basah-basahan dengan hujan. 

                Hari ini hari dimana hubungan kami genap lima bulan, ternyata di balik hujan yang lebat ini sekali lagi memperlihatkan bahwa Tika terus sabar akan tingkahku, sangat di sayangkan aku tak banyak berubah. Masih saja seperti dulu, ceroboh, sepele serta merasa kalau aku mampu menghadipi segalanya.

Makasi, udah mau sabar selama lima bulan ini.
Oe Tea Mo.

Selamat Hari Jadi yang ke-5 Bulan.
Jangan Lupa Untuk  Menyelesaikan Teka-tekinya, Yah Hadiah Akhir dari Teka-tekinya Adalah Sebuah Kata-kata...

:)

Minggu, 02 Oktober 2016

Teka teki

Par 1.
 Terdengar angin berhembus sebagai tanda sang bajak laut tengah berlabuh. Dalam perjalanannya ia telah banyak menaklukkan badai dan monster laut dengan begitu ganasnya.

Namun di hari ke tujuh ia berlabuh, ia melukis wajahnya yang sangar dengan berhiaskan senyuman dan lengkap dengan seorang putri di sampingnya yang juga ikut tersenyum. Di balik senyumnya yang penus misteri, ternyata menyimpan makna untuk sang putri..

Kamis, 29 September 2016

Dia dan Hujan



Hujan, adakah aku memintamu untuk kembali mengguyurku dengan sangat deras. Yah, aku pernah berkata kalau aku menyukaimu hujan, menyukai saat kau mengguyurku yang tegah berboncengan mesra dengannya. Tapi hujan, kenapa sangat dahsyat engkau mengguyurku dengan angin yang menyamarkan pandanganku. Saat itu ia menrintih, ia menggil menandakan ketidak sanggupannya menerima guyuran darimu yang cukup menyiksa dirinya.
Adakalanya saat kami berteduh berdua, kami tengah kuyup dengan guyuran air. Aku sangat gelisah dengan keadaan ini mengkhawatirkan dia, melihat dia tengah mengerutkan dahi akan tanda tanya kapan guyuranmu akan berhenti hujan. Sejenak kami terdiam dan saling memenadang ketakutan. Aku takut akan terlambat mengantarkannya pulang sementara dia takut aku akan sakit akibat basah-basahan.
****
                Saat itu sore tengah mendung, tampak sebentar lagi awan akan menumpahkan air sebagai tanda rahmat dariNya. Aku berboncengan mesra bersamanya melintasi jalan-jalan yang biasa kami lewati saat sepulang dari kampus. Tak menghiraukan isyrat mendung dan sedikitpun tak ambil peduli pada senja, kami berbincang mesra dan tertawa seperti biasanya.
                Petirpun menggema menyala-nyala menyadarkan bahwa kami telah lupa sebentarlagi hujan akan menetes bahkan merajam dengan sangat derasnya. Akupun yang tersadar dan menghentikan seda motorku sembari menyuruh Tika menggambil pelapis tas untuk dibalutkan pada tas agar tas beserta isinya aman dari hujan.
                Akhirnya hujanpun turun, kami melanjudkan perjalannan dengan hujan yang terus membasahi. Awalnya tetesannya seperti taburan bunga yang sengaja di tumpahkan pada kami, sepasan kekasih yang sedang bermesraan. Tak lam semuanya berbah menjadi lebih kejam, pandangaku seketika samar karena angin yang kian menghembus hujan sehingga tampak bagai kabut.

Bersambung . . . . . .  

Sabtu, 24 September 2016

Ada Kala

 Memulai catatan di malam yang dingin ini, malam dimana kami saling memandang dan saling menyapa semua taburan cinta.

Dia terlihat dengan rupa natural, rambut yang di gerai dan senyum manis tak begitu lebar. Menggambarkan akan indahnya sebuah perasaan.

Sungguh ini malam minggu yang panjang, malam dimana momen-momen kisah ini harus terekam dalam catatan ini..

Love you...

Jumat, 23 September 2016

Mu

Hanya tanda tanya yang selalu melilit dalam benak ini, tanda tanya akan apa dan mengapa ini terasa begitu sulit. Kala bersama dan menjalani ini dengan senyuman kita saling percaya, entah apa yang membuat emosi ini terlalu mudah untuk tersulut. Rasa yang terbakar seolah-olah mengeluarkan tingkah yang memprotesmu, tingkah yang seharusnya tak perlu kusalahkan. Aku menyesal untuk kesekian kalainya dan aku juga memohon maaf untuk kesekian kalainya. "Bilakah akan berakhir tingkah prontalku yang kian mengusik dirimu?", aku tak mampu menjawabnya, namun akau akan beruhasa untuk menguranginya dan berusaha tak membuatmu kecewa.
Melalui akun ini aku ber

Puasa Bicara

Aku manusia biasa yang hanya bisa berkata, sulit bagiku untuk berbuat. Akankah kesulitan itu yang membuatmu marah, membuatmu menghindar dari segala rasa ini. Rasa yang telah sempurna dengan hadirnya dirimu sayang, dirimu yang ada disetiap aku takut dan setiap ketidak fahamanku dalam menghadapi emosi. Kini kau diam, kau seolah asing bagiku dan tidak lagi perduli, tidak lagi membuka mulutmu serta memilih bungkan. Aku takkan berkata lagi bahwa "mungkinkah ini salahku?", karena aku tahu jelas aku yang salah.

Kalu memng kebungkamanmu adalah hukuman bagiku, atas semua ini dan atas kesalahanku, aku menerimanya. Aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, aku yang salah, dan aku tak bisa mengatakan kalau rasa ini harus di sudahi.


Maaf kan aku.....

Selasa, 13 September 2016

Dia Diantara Tumpuka Tugas

Kian hari mahasisiwa akan kian di tenggelamkan oleh kuliahnya atau bahkan sma sekali jenuh dengan itu semua. Terlihat menyiksa namun mereka menyadiri itulah cobaan yang akan mengantarkan mereka menuju kepastian akan ilmu yang mereka miliki, hanya saja mereka tak tahu atau mungkin diri mereka yang membuat mereka tak tahu diri. Menitik beratkan segalanya padamu sayang, segalanya bisa terjadi memang. Sampai kapan kamu akan terus begitu ka.. Aku sadar aku tak banyak berbuat

Selasa, 06 September 2016

Hujan, kamu hari ini datang dengan kehangatan. Kehangatan bandrek sahib. Kamu mengguyurku, awalnya dengan tetesan sepenggal-sepenggal jatuh menimpahku tanpa ampun. Akupun dan dia berteduh, kami duduk berdua di sebuah cafe yang beberapa hari ini sering kami kunjungi, sebuah kebetulan hujan. Kebetulan saat kami hendak pulang yang tak sengaja melintasi cafe ini dan sekarang berteduh berdua dengan bandrek dan teh hangat.

Love u triska ramadhani.

Publishing_by:hasan-van-lopha.in.bandrek_sahib

Rabu, 31 Agustus 2016

Apakah Akan Malam Minggu?

Pagi begitu dingin, hanya ada selimut yang melingkari tubuhku sembari menghantarkanku pada kelelapan semata. Ponselku berdering mengeluarkan siulan tanda pesan dari seberang sana entah dari siapa, terlihat masih sangat silau ponsel itu.

" I'll always waiting for you", sebuah pesan yang cukup mengejutkan sedini ini.

Pesan dari pacarku dari seberang sana, mngkinkah itu sebuah kerinduan atas penantian-penantian kami yang sebentarlagi akan berlabuh pada sebuah malam. Malam minggu.

Pagi saat aku kembali memulai kegiatan seperti pagi-pagi beberapa hari lalu. Aku mendengar sebuh tugas dari mitra kerjaku, ambil andil dalam sebuah kegiatan. Sayangnya kegitan itu adalah kegiatan menginap, oh sungguh kegiatan yang sangat bagus, meski aku harus menemuinya saat malam minggu. Haruskah aku meng Iyakan ajakan mitraku, haruskah dia menunggu ketidak hadiranku di malam minggu.

Aku kembali terjerembak dalam sudut-sudut yang pelik, hanya segumpal ketakutan untuk memilih yang keduanya adalah hal yang sama penting. Bilakah berakhir sebuah dilema dan bilakah berakhir kata maaf untuknya, bilakah waktu bahagia itu datang. Aku tidak berdaya, aku ingin segera hengkang tapi aku adalah manusia biasa yang harus mengemban amanah.
Ada kalanya bumi berpikir untuk berhenti mengitari matahari,karena bumi tau ada planet lain yang mengitari matahari juga.
Tetapi bumi juga berpikir ,bagaimana mungkin dia hidup tanpa matahari ,matahari memberi nya keceriaan melalaui sinarnya walau terkadang tertutup awan hitam dan akhirnya tetes hujan menjatuhi bumi.
Bumi sadar bahwa mathari tak hanya miliknya,matahari juga milik planet lainnya . Namun bumi terkadang egois sehingga menampikkan semua itu dan pada akhirnya hanya menyakiti dirinya sendiri.
Tapi percayalah walau begitu bumi tetap berusaha melawan keegoisannya walau dia menyakiti diri sendiri karena dia takut  sang matahari tak lagi bersedia menemaninya dan memberikan sinarnya pada bumi.

Rabu, 24 Agustus 2016

OE TEA MO

Aku ingin kamu tahu, tahu atas apa yang terasa sangat istimewa. Seistimewa dirimu di mataku, sayang aku banyak berbuat salah, mungkin akan sulit akan jarak yang memisahkan kita. Aku memang nakal, untuk urusan kesetian kali ini aku janji tidak akan nakal. Memang kangen kalau saling jauh, memang kangen jika jarang bertatap muka, dan tak ada alasan untuk marah jika kita saling tidak bertatap muka.

Minggu, 21 Agustus 2016

Dilema

Pagi, dimana kamu datang membawa kebahagianku, aku membawanya dengan kendaraan yang aku berinama Rengganis. Pagi, engakau akan datang esok membawaku sedikit menjauh darinya. Pagi, adakah hari ini akan kembali. Kembali bersamaku dan dia serta semua yang telah terekam dalam ingatan kami masing-masing. Meski aku sering lupa, meski aku jarang mengenangnya, meski dia selalu menghiasinya dengan rengutnya yang acap kali datang karena  kenakalanku.

Pagi, adakah sebuah kata untuk mewakili kebahagian ini. Adakah yang bisa membuat kejauhan ini menjadi nyaman, adakah pagi, adakah.!, walau sembari menyapa mereka yang tengah menanti. Pagi, aku baru saja merasakan kehangatan yang baru, kehangatan yang tidak datang dari mentarimu yang elok. Salahkah kehangatan itu datang darinya, salahkah aku menerimanya, salahkah semua ini pagi.

07:02, aku tepat berdiri di depan rumahnya. Pagar hitam dan suasana yang masih sunyi membuatku sedikit menunggu. Hanya barang sebentar, dia datang keluar rumah menyapaku dengan kata "Sebentar, yahh". Sapaan yang terdengar lambat berngiang di telinga ini.
Pakaian yang serba gelap seakan meperhias dirinya, dia tersenyum kembali dan berjalan mendekatiku.Triska, hari ini dia terlihat lebih cantik dari pada hari biasanya, akankah ada pagi-pagi berikutnya kan datang. Datang untuk menjemputnya dan berbarengan bersamanya pergi kuliah. 

I LOVE YOU

#Lab_PPKn-FIS-UNIMED_09:47_By:M.A.Hasan.Simatupang


Jumat, 19 Agustus 2016

Malam Minggu Nanti

Mungkin ini adalah hari terkepo yang pernah aku lewati. Bayangkan saja, padahal semalam juga baru ketemu dan beberapa menit lalu baru SMSan, anehnya rasa kangen yang ngak pernah surut ini terus menjadi-jadi.
Apa sebenarnya ini sayang.

Setidaknya, nanti malm kita akan nonton bereng, Stan-up comedy.
tunggu ya, sayang..
Aisiteru

Jumat, 12 Agustus 2016

Malam Syahdu dan Titik Hujan

Malam kian tak berbualan, hanya mendung yang memberikan hawa dinging usai titik hujan menete. Menetesi dua orang yang terpisahkan jarak namun di persatukan rasa, rasa yang memberikan jalan pada mereka untuk berbalas pesan dari dua posisi yang tak seruang.

Inikah kerinduan yang tersampaikan atau inikah sebuah perbincangan rasa, atau inikah cinta. Rasa dan cinta hanyalah rumbaian kata yang tak mampu untuk melukiskan indahnya perasan mereka, indahnya kasih sayang mereka dan indahnya hari-hai mereka.

Dalam nestapa penuh keunyian hanya ada pujangga dengan syair-syairnya, syair yang begitu meyayat jiwa. Namun dalam kemerlapnya cinta itu semua tidak lebih dari sebagian kecil dalam catatan cerita mereka, banyak hal lain yang bahkan tak tertulis bahkan tak bisa di ingat.

Dari balik jendelaku aku menatap awan dan membalas pesanmu, seakan malam ini cuaca ikut ambil andil dalam perbincangan kita dan dalam hubungan kita yang semakin hangat. Love You Triska Ramadhani

Selasa, 09 Agustus 2016

Kamu dan Rasa Sakit


Bayangan matahari memang tak sejengkal kepala tapi dia selalu memamerkan panasnya yang serasa menikam ubun-ubun. Aku adalah orang awam yang besar dengan sikap kasar, emosi adalah barang yang sangat biasa. Aku menyadari akan kelemahanku sebagai manusia, jujur kuberkata aku ingin hidup sebagai manusia yang berbeda. Berbeda dari apa yang telah lalu, berbeda dari apa yang negatif dan berbeda dari segala yang buruk.

Hal yang membuatku bertekat untuk bangkit adalah keyakinan, akan sebuah anugrah yang indah dariNya, walau kadang kala aku tak mensyukuri anugrah itu. Malah membalasnya dengan rasa sakit, rasa sakit yang selalu meradang dalam sendi-sendi kehidupanku akan sikap yang egois. Aku berharap semua rasa sakit ini akan sirnah walau tak utuh, seketika aku menyadari bahwa rasa sakit ini ada penawarnya.

Ketulusanmu, kesabaranmu, dan semua cinta itu adalah jawaban akan rasa sakit itu. Jadilah obat dalam hidupku meskipun aku akan bergelimpangan dengan rasa sakit. Aku yakin raa sakit itu adalah anugrahNya yang akan ia sembuhkan melalui dirimu.

Maafkanlah aku dan berjanjilah untuk tidak mengatakan atau menulis kata " jinxed".

Oe Tea Mo..



:')

Senin, 08 Agustus 2016

Good Evening

I can't write special words,beautiful words for you like you ever did to me.
I just want to say thank you for everything
I try to be the best for you
I try to always be there for you

A Rainbow for My Sun

I Love You Hasan

Minggu, 07 Agustus 2016

Profil Project




TRISKA RAMADHANI, wanita kelahiran medan 5 januari  1998 ini akrab di sapa Ika. Ia sedikit pemalu dan sering bosan pada suatu hal, entah itu rutinitas, hobi, atau yang lainnya. pemilik sio macan tanah ini adalah putri bungsu dari enam orang bersaudara, di tengah usianya yang masih muda ia telah terdaftar sebagai mhasiswa S1 jurusan PPKn, FIS, UNIMED. 

Tiada hal yang begitu membuatnya betah selain SOSMED, walau begitu prestasi belajar wanita ini tidak bisa diragukan. Terbukti dengan peraihan prestasinya di setiap jenjang ia mengikuti sekolah, hingga SD sampai tamat SMA dia selalu memegang predikat 3 besar, ia dan teman-temannya juga pernah menjurai sepak bola putri saat masih bersekolah. Bahkan saat ini ia bertahan dengan IPK 3. 

Baginya Hello kitty sangat indah, ini terbukti dari hampir semua koleksi barang-barang yang ia miliki bertemakan hello kitty. Walau sudah Mahasiswa tokoh kartun anak-anak tersebut tak membuatnya minder untuk menjadikannya fasion. 

Dia memiliki tekat untuk hidup menjadi seorang waita yang mandiri dan berguna, di tengah-tengah anggapan yang melekat pada dirinya seagai seorang anak yang manja. Hanya saja memang benar ika tidak suka dengan hal kekerasa, pembulyan dan senior yang killer.

Kamu dan Pagi

 Fajar menyingsing seperti pagi yang biasanya, aku kira aku yang paling awal untuk menyapanya. menyapa Senyum indah itu, atau sekedar mengiriminya pesan lewat SMS. Ternyata dia lebih dulu terjaga dari lelap dan mengirimi aku pesa, pesan kerinduan ingin bertemu melepas gundah.

Kemarin titik hujan menetesi malam minggu, seharusnya aku datang malam itu untuk bertemu dengannya. Yah, tapi malam sepertinya hujan membatasi pertemuan itu dan menggantinya dengan rasa rindu yang sangat indah. Indah dan ingin segera bertemu.

Triska Ramadhani, seorang yang berperawakan manja. Wajahnya menampakkan beta indahnnya kasih sayang yang telah membentuk sikapnya yang halus bagai sutra. Sutra yang hanya ada dalam semusim dan langka.

Aku mungkin satu-satunya orang yang bodoh, mencoba untuk menguji seberapa tangguhnya dia. Padahal ujian hanya layak datang dari Illahi.

sementara kini pagi datang berbarengan dengan pagi bersamanya. Bersamamu sayang...

Jumat, 05 Agustus 2016

Sebuah pagi



            

Ini hari dimana aku baru saja terjaga dari lelapnya kantuk, malam tadi memang tidak memberikan waktu yang cukup untuk terlelap. Mungkin karena harus duduk di samping nenek yang sedang sakit, meski ada kenyamanan di sampingnya seperti masa dimana aku masih kecil. 

Kali ini kami agak berdialog panjang tentang seseorang yang wajahnya masih baru. Walau baru nenek cepat mengenalinya dan begitu jugan dengan dia bisa menyesuaikan dirinya. Pertemuan dan dialog merekapun membuat nenek senang, meski aku di kacangin tapi enggak apalah yang penting mereka senang. 

Nenek pesan, kalau dia itu baik dan serasi untukku. Yah, sedikit GR-sih mendengarnya yang penting kami bahagia dan menjauhkan dari tingkah yang menyalah. Meski kadang aku sering memancing kejengkelan, setidaknya dia selalu melerai.  Melerai kebodohan yang tidak patut di peralalasankan.
Wajahnya terlihat manyun tapi tetap saja masih catik, dia tidak begitu nyaman dengan itu. Dengan jujur aku hanya berniat untuk mengujinya walau tak sepantasnya aku berbuat seperti itu.

Catatan indah menghiasi hari dalam kemerlap rona kehidupan, kesalahan dalam tiap tutur kata insan hanyalah nafas kehilafan akibatan penurutan nafsu. Aku melihat sebuah kehidupan baru dlam dirimu, indah dan nyaman berhiaskan cinta yang tulus. Selama ini aku terus mencari dan terus berbenah, namun pencarian itu kini tidak sunyi dan dihiasi tawa. 

Maaf ya, sayang kalau abng suka buat ika jengkel..


I Love You Mr.M.Abdul Hasan Simatupang

Kamis, 04 Agustus 2016

Kami

Mengawali perbincangan pagi ini, tidak ada hal yang cukup istimewa selain perasaan yang dirilis tanggal 29 April 2016. Mungkin ini sebuah hal yang unix untuk kebanyakan yang notabene berpacaraan, Triska Ramdhani seorang wanita yang cukup memberikan tanda tanya besar pada saya. Saya yang sekarang semakin menaruh perasaan yang tengah kasmaran, sungguh suatu perasaan yang sulit untuk diwakili kata-kata.

Mengingat pertanggalan pada hari ini jika di tarik mundur menuju hari itu, angka hubungan kami sudah cukup lama. Tapi bagaimana dengan perasaan yang kini masih membera,  apakah seketika harus teduh atau padam atau mungkinkah jauh membara dan membakar..

yang jelas kami adalah kami, kami bukan mereka . . . . . . . .


Selasa, 02 Agustus 2016

Pagi yang Sunyi

Morning, Ka!

Yah, pagi ini  memang enggak ada SMSan, walau aku tetap enggak bisa bendung rindu ke kamu.
 Janji loh sama aku, di usia hubungan kita yang udah bertambah, kita juga harus semakin tangguh. Makanya kemaren aku sempat ikat tangan kamu ke tangan aku.
Meski entah apa alasannya foto-foto ini kita ambil. Momen yang diperlihatkan dalamnya hanya kita, yang sedang duduk  tersenyum (walau senyumku agak serem) menatap kamere membiarkannya menggambar walau tak berapa lama.
 pada pemotretan kesekian kalainya aku baru bisa tersenyum manis dan mungkin untuk pertama kalinya senyum manis itu tertangkap kamera dengan jelas, meski kamunya tidak tertangkap kamera. wkwkwkwkwk
 akupun akhirnya semakin terbiasa dengan senyum lebar yang baru saja aku pelajari, senyum itupun tumbuh menjadi tingkah laku yang semakin gokil...

sebelum sesi pemotretannya kita akhiri, tampaklah wahmu yang membuatku kan terus mengingat moment itu, dan mungkin wajahku terlihat seperti camat atau pejabat pemerintah yang bijak.
Anehnya baru aku sadari bahwasannya aku telah belajar banyak darimu sayang, Belajar untuk tersenyum walau sangat sulit untuk raut wajahku, Belajar untuk tetap tegak pada saat pose pengambilan Foto, Belajar untuk tetap ceria walau masih banyak beban yang di pikul..
mungkin inilah keajaiban yang selama ini aku cari, ternyata itu dirimu, dirimu yang memerikan keajaiban dalam duniaku.
untuk itu, aku belum mau mengkhiri tulisan ini sampai kapanpun. karena masih banyak lagi keajaiban yang belm kutulis dan mungkin tak semuanya tercaver dalam blog ini...

Te Quero,,,,